Pendidikan
Agama Islam
AKHLAK
DALAM ISLAM
Disusun
Oleh:
Ibadi
Rohman 2303422030
Durotun
Nashiah 2303422023
Eka
Lutfiyatun 2303422022
FAKULTAS
BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS
NEGERI SEMARANG
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Akhlak
merupakan representasi dari pemikiran seseorang yang nampak dari luar. Akhlak
sering dijadikan parameter baik buruknya seseorang dilihat dari sudut pandang
manusia. Akhlak bersifat relative dalam hal penilaian walaupun hanya
disandingkan dari dua sisi yaitu baik dan buruk.
Akhlak merupakan garis pemisah antara yang berakhlak
dengan orang yang tidak berakhlak. Akhlak juga merupakan roh Islam yang mana
agama tanpa akhlak samalah seperti jasad yang tidak bernyawa. Oleh itu salah
satu misi yang dibawa oleh Rasulullah saw ialah membina kembali akhlak manusia
yang telah runtuh sejak zaman para nabi yang terdahulu karena penyembahan
berhala oleh pengikutnya yang telah menyeleweng.
Selain itu, akhlak juga merupakan ciri-ciri kelebihan di antara manusia. Akhlak merupakan lambang kesempurnaan iman, ketinggian taqwa dan kealiman seseorang manusia yang berakal. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda yang bermaksud : “Orang yang sempurna imannya ialah mereka yang paling baik akhlaknya”.
Ketiadaan
akhlak yang baik pada diri individu atau masyarakat akan menyebabkan berbagai
krisis dalaman dan luaran seperti krisis nilai diri, keruntuhan rumah tangga,
masyarakat belia yang mundur dan bisa membawa kepada kehancuran sebuah negara.
Presiden Perancis ketika memerintah Perancis dulu pernah berkata : “Kekalahan
Perancis di tangan tentara Jerman disebabkan tentaranya runtuh akhlak dan
moral”.
Akhlak
tidak dapat dibeli atau dinilai dengan uang . Ia wujud di dalam diri seseorang
hasil dari pada didikan kedua orang tua atau penjaga serta pengaruh dari
masyarakat sekeliling mereka. Jika sejak kecil kita didedahkan dengan akhlak
yang mulia, maka secara tidak langsung ia akan mempengaruhi tingkah laku dalam
kehidupan sehari-hari hinggalah seterusnya.
Akhlak amat penting karena merupakan asas yang dilakukan oleh Rasulullah saw ketika memulakan pembentukan masyarakat Islam. Sheikh Mohamad Abu Zahrah dalam kitabnya Tanzim al-Islam Li al-Mujtama' menyatakan bahawa budi pekerti atau moral yang mulia adalah satu-satunya asas yang paling kuat untuk melahirkan manusia yang berhati bersih, ikhlas dalam hidup, amanah dalam tugas, cinta kepada kebaikan dan benci kepada kejahatan.
Akhlak amat penting karena merupakan asas yang dilakukan oleh Rasulullah saw ketika memulakan pembentukan masyarakat Islam. Sheikh Mohamad Abu Zahrah dalam kitabnya Tanzim al-Islam Li al-Mujtama' menyatakan bahawa budi pekerti atau moral yang mulia adalah satu-satunya asas yang paling kuat untuk melahirkan manusia yang berhati bersih, ikhlas dalam hidup, amanah dalam tugas, cinta kepada kebaikan dan benci kepada kejahatan.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dihadapkan pada
tiga hubungan yang mengharuskannya untuk berbuat sesuatu. Yaitu hubungan
manusia dengan Allah SWT ( ibadah ), hubungan manusia dengan sesama manusia
(muamalah dan uqubat ) dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri (akhlak,
makanan, minuman, pakaian, dan lain-lain ). Ketiga hubungan tadi
mengharuskan kita untuk menentukan sikap yang harus diambil sesuai dengan
pemikirannya, termasuk akhlak yang akan dibahas lebih mendalam pada makalah
ini. Mengingat betapa urgennya akhlak itu dalam kehidupan manusia.
B. Rumusan
Masalah
Dari latar belakang di atas, maka dapat ditarik
rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Apa pengertian
akhlak dalam islam?
2.
Bagaimana
klasifikasi perbuatan manusia dalam islam?
3.
Bagaimana
kedudukan agama sebagai sumber akhlak?
4.
Apa saja
karakteristik akhlaqul karimah?
5.
Bagaimana
pengaktualisasian akhlak dalam kehidupan?
C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.
Agar kita
mengetahui apa itu akhlak.
2.
Untuk mengetahui
mana akhlak yang baik dan yang buruk.
3.
Untuk mengetahui
seberapa pentingnya peran agama dalam membangun akhlak yang baik.
4.
Agar kita dapat
mengetahui lebih dalam tentang akhlakqul karimah.
5.
Setelah kita
mengetahui tentang akhlak dalam islam, diharapkan kita dapat mengaplikasikannya
dalam kehidupan sehari-hari.
BAB
II
ISI
A.
Pengertian
Akhlak dan Perbedaannya dengan Moral dan Etika
Akhak atau sistem perilaku merupakan tolok ukur perbuatan manusia
yang terdapat acuan untuk menilai perbuatan tersebut baik atau buruk
berdasarkan ajaran dari Allah. Akhlak tewujud melalui proses aplikasi sestem
nialai atau norma yang bersumber dari Al-Quran dan Hadis yang bersifat
mengarahkan, membimbing dan membangun peradaban manusia. Sedangkan etika
terbentuk dari sistem nilai/norma yang berlaku secara alamiah dalam masyarakat
dan dapat berubah menurut kesepakatan dan persetujuan dari masyarakatnya pada
dimensi waktu dan ruang tertentu. Moral dipakai sebagai tolok ukur untuk
menilai suatu perbuatan yang dilakukan seseorang atau menyatakan ukuran,
sementara etika digunakan sebagai kerangka acuan untuk mengkaji sistem-sistem
nilai atau kode, atau menjelaskan ukuran tersebut.
B.
Klasifikasi
Perbuatan Manusia
Al-Ghazali membagi akhlak menjadi dua, yaitu akhlak mahmudah
(akhlak terpuji) dan akhlak mazmumah (akhlak tercela). Aklak mahmudah
yaitu Al-amanah (dapat dipercaya), al-sidqu (berkata benar),
al-adil (adil), al-afwu (pemaaf), al-wafa (menepati janji),
al-sabru (sabar), al-rahmah (kasih sayang), dan sebagainya.
Sedangkan akhlak mazmumah meliputi aninah (egois), al-bagyu
(lacur), al-bakhil (kikir), al-zulm (aniaya), al-ghadab
(pemarah), al-ghibah (pengumpat) , dan sebaginya.
Contoh al-amanah dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan
menjaga dan menjalankan apa yang sudah menjadi amanat kita. Misalnya saja kita
diberi kepercayaan oleh orang tua untuk bisa menuntut ilmu maka kita harus
berusaha sebisa mungkin agar tidak mengecewakan mereka. Sedangkan contoh aninah
dalam kehidupan sehari-hari yaitu saat kita menjalani kehidupan dengan
bersosialisasi namun kita tidak memperdulikan kepentingan orang lain kita hanya
mau tau urusan kita sendiri.
C.
Agama
Sebagai Sumber Akhlak
Al-Quran mengajak pemeluknya untuk menjalani kehidupan ini seideal
mungkin dan secara keseluruhan dalam semua seginya dengan mennjadikan Al- Quran
dan As-Sunnah sebagai rujukannya. Ruang lingkup agama Islam tidak terbatas
mengenai kehidupan akhirat saja melainkan berurusan dengan kehidupan dunia,
agar dengan hidup lurus di dunia, manusia mencapai kesadaran akan adanya
kehidupan yang lebih tinggi. Itulah sebabnya Al-Quran membahas macam-macam
pokok persoalan yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia di dunia. Seperti
halnya kehidupan social dan politik, pelayanan umum, maupun perkawinan.
Islam telah meletakkan persaudaraan umat manusia yang tak mengenal
perbedaan warna kulit, suku bangsa, Negara, bahasa atau derajat. Islamlah yang
telah meletakkan dasar persatuan umat manusia yang tak dapat dijangkau oleh
akal pikiran manusia. Islam bukan saja mengakui persamaan hak sipil dan hak
politik manusia tetapi juga mengakui persamaan hak dan bidang ruhani. Ajaran
pokok agama Islam adalah “Manusia adalah umat yang satu” (QS. 2:1).
Akhlak adalah ajaran Islam yang paling dasar, seperti halnya sabda
Nabi “sesungguhnya aku diutus (tiada lain, tiada bukan) supaya menyempurnakan
akhlak yang mulia”. Dalam pandangan Islam, akhlak merupakan satu-satunya
ukuran yang menjadi garis pemisah antara mana perbuatan yang baik dan mana yang
tidak baik. Ajaran Islam bersumber pada norma-norma pokok yang dicantumkan
dalam Al-Quran dan sunnah Rasulullah saw sebagai suri tauladan yang memberi
contoh dan mempraktekan Al-Quran. Nabi juga memberikan teladan yang sangat
tegas tentang akhlak baik terhadap sesama manusia maupun makhluk Allah lainnya.
Akhlak memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan
manusia baik sebagai makhluk individu maupun masyarakat dan bangsa, sebab jatuh
bangunnya suatu masyarakat tergantung pada keberadaan akhlaknya. Apabila
akhlaknya baik maka sejahteralah lahir dan batinnya dan sebaliknya jika
akhlaknya rusak maka rusaklah lahir dan batinnya. Seseorang dapat dikatakan
berakhlak jika timbul dengan sendirinya, didorong oleh motivasi dari dalam diri
dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan pemikiran. Akhlak adalah sifat yang
tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan muncul secara spontan apabila
diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan terlebih dahulu, serta
tidak memerlukan dorongan dari luar.
D.
Karakteristik
Akhlaqul Karimah
Akhlaqul
karimah (perilaku yang mulia) mempunyai karakteristik yang jelas dan nyata bagi
pelakunya. Menurut M. Yatimin Abdullah, karakteristik ajaran islam dalam bidang
ilmu dan kebudayaan, pendidikan, sosial, ekonomi, kesehatan, politik,
pekerjaan, dan berbagai disiplin ilmu.
Karakteristik
ajaran akhlaqul karimah ialah suatu karakter yang harus dimiliki oleh seorang
muslim dengan berdasarkan Alqur’an dan Hadits dalam berbagai bidang ilmu,
kebudayaan, pendidikan, sosial, ekonomi, kesehatan, politik, pekerjaan, dan
berbagai disiplin ilmu.
1.
Akhlak bidang
ilmu dan kebudayaan
Karakteristik
ajaran akhlaqul karimah jika dihubungkan dalam bidang ilmu dan kebudayaan
bersifat terbuka dan akomodatif namun selektif. Terbuka dan akomodatif terhadap
masukan dari luar namun selektif yaitu tidak begitu saja menerima seluruh ilmu
dan kebudayaan melainkan sejalan dengan ajaran akhlak islami dan karakter islam
itu sendiri.
Karakteristik
ajaran akhlaqul karimah dalam islam dapat mendorong pelakunya untuk menciptakan
kebudayaan islam yang didasarkan pada empat factor, yaitu menghormati akal dan
menyuruh manusia menggunakan akalnya untuk memikirkan alam, mewajibkan
pelakunya untuk menuntut ilmu, melarang pelakunya bersikap taqlid uta dan
menyuruh pelakunya memeriksa dan mmbuktikan kebenaran secara hakiki.
2.
Akhlak bidang sosial
Karakteristik
ajaran akhlaqul karimah di bidang sosial ini termasuk yang paling menonjol
karena seluruh bidang ajaran akhlaqul karimah dalam bidang sosial ditujukan
untuk menyejahterakan manusia.
Karakterisirtik ajaran akhlaqul
karimah menuntun cara menuju tercapainya kehidupan sosial yang harmonis,
misalnya ajaran shalat jama’ah di masjid untuk menanamkan rasa persamaan dan
persaudaraan antar sesama, khususnya antar umat islam dan membangun ukhuwah
islamiah, ajaran puasa untuk menanamkan persamaan, persaudaraan, dan rasa senasib
dan sepenanggungan, dan sebagainya.
3.
Akhlak bidang
ekonomi
Asas-asas pokok
pendirian ekonomi menurut karakteristik ajaran akhlaqul karimah adalah sebagai
berikut, (1) kewajiban berusaha, ajaran akhlaqul karimah menegaskan bahwa
pengangguran, hidup meminta-minta adalah perbuatan dosa dan melarang
sekeras-kerasnya apalagi putus asa. (2) kewajiban membasmi pengangguran, agar
kemiskinan teratasi. (3) mengakui hak milik, membolehkan seorang mencari harta
dengan tangannya sendiri atau menerima pemberian dari orang lain secara sah dan
memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk memiliki, memakai, dan menggunakan
serta memberikan hartanya kepada orang lain. (4) mewajibkan pada pelakunya agar
tunduk di bawah kesejahteraan sosial, bahwa pengakuan hak milik sebagai asas
ekonomi islam harus mengutamakan kepentingan masyarakat umum.
4.
Akhlak bidang
kesehatan
Karakteristik
ajaran akhlaqul karimah mewajibkan memelihara kesehatan dengan cara mengajak
dan menganjurkan seseorang untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta
menjaga kesehatan.
Karakteristik akhlaqul karimah
tentang kesehatan berpedoman pada prinsip pencegahan lebih baik dari pada
mengobati. Allah swt berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertaubat dan senang kepada orang-orang yang membersihkan diri” (QS. 2 : 222).
Segi kesehatan batin misalnya dengan konsep taubat dalam rangka menghasilkan
kesehatan mental.
5.
Akhlak bidang
politik
Islam tidak
mengajarkan ketaatan buta terhadap pemimpin. Islam menghendaki suatu ketaatan
kritis, yaitu ketaatan yang didasarkan pada kebenaran dari Allah dan Rasul-Nya.
Ketika Nabi saw. di Madinah, beliau menjadi kepala Negara sekaligus rasul. Para
peneliti sejarah mengatakan bahwa corak politik yang ditetapkan oleh Nabi saw.
Adalah teo-demokratis yaitu suatu
pola pemerintahan yang dalam menyelesaikan persoalan terlebih dulu melakukan
musyawarah, setelah itu menunggu ketetapan Allah. Ini disebabkan karena pada
masa Nabi saw. wahyu masih dalam proses turun.
6.
Akhlak bidang
pekerjaan
Karakteristik
ajaran akhlaqul karimah dalam bidang pekerjaan dapat dilihat dari anjuran wajib
kerja. Islam memandang bekerja sebagai ibadah kepada Allah. Karakteristik ajaran
akhlaqul karimah dalam islam diantaranya adalah prinsip keseimbangan antara
mengusahakan untuk dunia dan akhirat.
7.
Akhlak budang
sains modern
Karakteristik
ajaran akhlaqul karimah sangat menekankan pentingnya sains modern dan disiplin
dalam berbagai kehidupan, terutama disiplin waktu, sampai ada pepatah yang
mengatakan waktu adalah pedang, siapa yang tidak mampu memanfaatkannya maka ia
akan tertindas oleh waktu itu sendiri.
Karakteristik
ajaran akhlaqul karimah mengenai sains modern sangat dibutuhkan sebab
menerapkan sains modern pada eseorang, membuat orang tersebut tetap berpegang
teguh pada peraturan dan takkan tergoyahkan aqidahnya.
E. Akhlaq
dan aktualisasinya dalam kehidupan
Secara
garis besar ajaran akhlaq islam meliputi 2 wilayah pembahasan, yaitu akhlaq
manusia dengan Allah Swt. Dan akhlaq manusia dengan sesame ciptaan-Nya. Akhlaq
manusia dengan sesame ciptaan Allah Swt. Dibagi menjadi 2 bagian yaitu akhlaq
antara manusia dengan manusia dan akhlaq antara manusia dengan lingkungan
hidup.
1.
Akhlaq Terhadap
Allah Swt.
Pola hubungan
yang harus dibangun antara manusia dengan Allah swt diantaranya yaitu:
a.
Mentauhidkan
Allah.
Yaitu
mengesakan-Nya baik dalam zat, asma’ washiffat maupun af’al (perbuatan-Nya)
serta menjauhkan diri dari perbuatan syirik yang bisa menghancurkan sendi-sendi
moral dan kehidupan manusia.
b.
Bertaqwa.
Memelihara diri
dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah dan menjauhi segala
larangan-Nya. Seorang yang hati-hati sekali menjaga segala perintah Allah,
supaya tidak meninggalkannya. Dalam Firman-Nya “Hai orang-orang yang beriman,
bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah
sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam”(QS. Ali Imran 3:
102)
c.
Cinta dan Ridha
“Katakanlah:”jika
kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi
dan mengampuni dosa-dosamu” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali
Imran 3: 3)
Ayat tersebut
menyuruh kita orang-orang mukmin agar yang pertama dan utama yang dicintai
adalah Allah Swt. Allah lebih dicintainya daripada segala-galanya. Seseorang
dikatakan mencintai Allah jika dia selalu berusaha melakukan segala sesuatu
yang dicintai-Nya, dan meninggalkan segala sesuatu yang tidak disukai atau
dibenci-Nya.
d.
Ikhlas
Ikhlas adalah
berbuat tanpa pamrih, hanya semata-mata mengharap ridha Allah swt. Ikhlas
adalah syarat diterimanya suatu amalan, baik yang menyangkut amalan dunia
maupun amalan akhirat. Niat yang ikhlas harus diikuti dengan kualitas amal yang
sebaik-baiknya.
“Sesungguhnya
Allah Swt menyukai, bila seseorang beramal, dia melakukannya dengan
sebaik-baiknya…” (HR. Baihaqi)
Seorang
mukhlis tidak akan sombong ketika meraih
keberhasilan dan tidak akan putus asa ketika mengalami kegagalan. Tidak lupa
diri ketika menerima pujian dan tidak mundur ketika mendapatkan cacian, sebab
dia berbuat semata-mata hanya karena Allah Swt. Sebaliknya, dia akan selalu
bersemangat dalam beramal karena terdorong untuk mendapatkan ridho dari Allah
Swt.
Lawan dari
ikhlas adalah riya’, yaitu berbuat bukan karena Allah melainkan karena ingin
mendapatkan pujian dan sanjungan dari orang lain.
“Sesungguhnya
sesuatu yang paling aku takutkan terjadi pada kalian adalah syirik kecil”.
Sahabat bertanya: “apakah syirik kecil itu ya Rasulullah?” Rasul menjawab:
“Riya’.” (HR. Ahmad)
e.
Tawakal
Adalah
membebaskan hati dari segala ketergantungan kepada selain Allah dan menyerahkan
segala keputusan hanya kepada Allah Swt. Tawakal harus diawali dengan kerja
keras dan usaha maksimal (ikhtiar). Tidaklah dinamai tawakal kalau hanya pasrah
menunggu nasib sambil berpangku tangan tanpa melakukan apa-apa.
f.
Syukur
Ialah memuji si
pemberi nikmat atas kebaikan yang telah dilakukannya. Syukur harus melibatkan
tiga dimensi yaitu hati, untuk ma’riffah dan mahabbah, lisan untuk memuja dan
menyebut asma Allah dan anggota badan untuk menggunakan nikmat yang diterima
sebagai sarana untuk taat kepada Allah dan menahan diri dari maksiat kepada-Nya
“dan ingatlah,
ketika Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan
menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim 14: 7)
g.
Muraqabah
Muraqabah
berakar dari kata raqaba yang berarti menjaga, mengawal, menanti dan mengamati.
Semua pengertian ini tersimpul dalam satu kata yaitu pengawasan. Muraqabah yang
dimaksud disini adalah kesadaran seorang muslim bahwa dia selalu berada dalam
pengawasan Allah Swt. Kesadaran itu lahir dari keimanannya bahwa Allah Swt
dengan sifat ‘ilmu, basher dan sama’ (mengetahui, melihat dan mendengar) Nya
mengetahui apa saja yang dia lakukan kaan dan dimana saja. Dia mengetahui apa
yang dipikirkan dan dirasakan oleh hamba-Nya. Tidak ada satupun dari aktivitas
manusia yang luput dari pengawasan-Nya. Firman Allah:
“Dia mengetahui
(pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Al
Mukmin 40: 19)
h.
Taubat
Taubat adalah
sebuah kebijakan Allah untuk menerima kembali hamba-Nya yang telah menjauhkan
diri dari-Nya dan menginginkan untuk kembali ke jalan yang benar setelah
melakukan kesalahan-kesalahan. Bertaubat kepada Allah memiliki makna kembali
menuju ketaatan setelah melakukan kemaksiatan, kembali pada Allah setelah
meninggalkan-Nya dan kembali taat setelah menentang-Nya.
“Dan
sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman dan beramal
shaleh, kemudian tetap dijalan yang benar.” (QS. Thaha 20: 82)
2.
Akhlaq Terhadap
Rasulullah Saw.
Akhlaq Terhadap
Rasulullah Saw adalah cara kita berinteraksi secara tidak langsung kepada
Rasulullah Saw. Yang meliputi tata cara kita bersikap kepada beliau dan tata
cara kita berinteraksi dengan segala sesuatu yang dibawanya.
Contoh akhlaq
terhadap Rasulullah diantaranya adalah mencintai dan memuliakannya. Mencintai
Rasulullah juga berarti mencintai orang-orang yang dicintai beliau dan membenci
orang-orang yang dibencinya, lebih khusus lagi mencintai dan memuliakan
keluarga dan sahabat-sahabat beliau.
“janganlah kamu
cela sahabat-sahabatku. Andaikata seseorang diantara kamu memberikan infaq emas
sebesar gunung Uhud, tidak akan sampai menyamai satu mud (infaq) salah seorang
diantara mereka, bahkan setengah mud pun tidak.” (HR. Bukhari)
Salah satu
contoh lain untuk membuktikan rasa cinta kita kepada Rasulullah adalah
mengucapkan shalawat dan salam untuknya. Sebagaimana diperintahkan Allah:
“sesungguhnya
Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang
beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan
kepadanya.” (QS. Al-Ahzab 33: 56)
Demikian beberapa bentuk interaksi
dengan Rasulullah yang masih dan terus bisa kita lakukan sampai kapanpun,
sebagai perwujudan keimanan kita kepada Allah Swt.
3.
Akhlaq Pribadi
Menurut imam Al
Ghozali, “Akhlaq adalah sebuah keadaan yang tetap dalam jiwa yang darinya lahir
perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa membutuhkan pemikiran lagi”. Perilaku
seseorang akan mencerminkan akhlaq yang baik manakala selalu dilandasi dengan
nilai-nilai yang universal sudah diterima baik dalam pandangan manusia maupun
dalam pandangan Allah Swt. Oleh karenanya setiap muslim harus menginternalisasi
nilai-nilai atau sifat-sifat itu ke dalam dirinya sehingga menjadi bagian dari
kepribadiannya. Nilai-nilai itu diantaranya shidiq, amanah, istiqomah, iffah,
tawadhu’, malu, sabar, pemaaf dan sebagainya.
a.
Shidiq
Artinya benar
atau jujur, lawan kata dari dusta atau bohong. Seorang muslim dituntut untuk
selalu berada dalam keadaan benar lahir batin, benar hati, benar perkataan dan
benar perbuatan.
b.
Amanah
Amanah artinya
dipercaya, seakar dengan kata iman. Sifat amanah lahir dari kekuatan iman.
Semakin menipis keimanan seseorang semakin pudar pula sifat amanah pada
dirinya. Antara keduanya terdapat kaitan yang sangat erat, sabda Nabi Saw:
“Tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak amanah, dan tidak (sempurna) agama
orang yang tidak menunaikan janji.” (HR. Ahmad)
c.
Istiqomah
Secara
etimologis, istiqomah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia
berarti sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Dalam istilah akhlaq,
istiqomah adalah sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman
sekalipun menghadapi berbagai tantangan dan godaan. Seorang yang istiqomah
laksana batu karang di tengah-tengah lautan yang tidak bergeser sedikitpun
walaupun dipukul oleh gelombang yang bergulung-gulung. Perintah supaya
beristiqomah sebagaimana dinyatakan oleh Allah :
“maka
beristiqomahlah kamu kepada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu
dan juga orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui
batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. As-Syura 42:
15)
d.
Iffah
Etimologis,
iffah adalah bentuk masdar dari affa-ya’iffu-‘iffah yang berarti menjauhkan
diri dari hal-hal yang tidak baik. Juga berarti kesucian tubuh. Secara
terminologis, iffah adalah memelihara kehormatan diri dari segala hal yang akan
merendahkan, merusak dan menjatuhkannya. Untuk menjaga kehormatan diri
tersebut, setiap orang haruslah menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan
yang dilarang oleh Allah. Dia harus mengendalikan hawa nafsunya, tidak saja
dari hal-hal yang haram, bahkan kadang-kadang harus juga menjaga dirinya dari
hal-hal yang halal karena bertentangan dengan kehormatan dirinya.
e.
Tawadhu’
Tawadhu’ artinya
rendah hati, kebalikan dari sombong atau takabur. Orang yang rendah hati tidak
memandang dirinya lebih hebat dari orang orang lain, sementara orang sombong
menghargai dirinya secara berlebihan. Rendah hati berbeda dengan rendah diri,
sekalipun dalam prakteknya orang yang rendah hati cenderung merendahkan dirinya
dihadapan orang lain, tetapi sikap tersebut lahir dari rasa tidak percaya diri.
Sikap Tawadhu’
adalah sifat mulia yang lahir dari kesadaran akan Kemahakuasaan Allah atas
semua hamba-Nya. Manusia adalah makhluk lemah yang tidak punya apa-apa di
hadapan Allah Swt.
“Dan apa saja
nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu
ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan”.
(QS. An Nahl 16: 53)
f.
Malu
Malu atau dalam
bahasa arab al-hayaa’u, adalah sikap menahan segala kecenderungan berbuat
keburukan, kedzaliman, kekejian, kesewenang-wenangan dan tindak maksiat
lainnya. Orang yang memiliki rasa malu akan mendapatkan banyak kebaikan.
Rasulullah bersabda:
“Sifat
malu merupakan kumpulan kebaikan.” (HR. Muslim)
Karenanya siapa
saja yang memiliki rasa malu, sungguh dia telah mendapatkan nikmat yang
sempurna dari Allah Swt. Perasaan malu merupakan ciri yang sangat khas akhlaq
mulia dalam pandangan islam. Sabda Nabi:
“Setiap agama
mempunyai akhlaq, dan akhlaq islam yang fundamental adalah rasa malu.” (HR.
Imam Malik)
g.
Sabar
Secara
etimologis berarti menahan dan mengekang, sedangkan secara istilah, sabar
bermakna menahan diri dari segala sesuatu yang tidak disukai karena
mengharapkan ridho Allah.
Seorang muslim
dituntut memiliki sifat sabar dalam berbagai situasi, seperti sabar dalam
menerima cobaan, sabar dari keinginan hawa nafsu, sabar dalam taat kepada
Allah, sabar dalam berdakwah, sabar dalam perang dan sabar dalam pergaulan.
h.
Pemaaf
Pemaaf adalah
sikap suka member maaf terhadap kesalahan orang lain tanpa harus menunggu orang
yang bersalah itu meminta maaf kepada dirinya. Menurut Quraish shihab, tidak
ditemukan satu ayatpun yang menganjurkan untuk meminta maaf, tetapi yang ada
adalah perintah untuk member maaf.
“… maafkanlah
mereka dan berlapang dadalah, sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang
berbuat kebajikan (terhadap yang melakukan kesalahan kepadanya)” (QS. Al Maidah
5: 13)
4.
Akhlaq Terhadap
Sesama Manusia
Ajaran islam
selain mengatur interaksi manusia dengan Allah Swt. Juga mengatur interaksi
antara manusia dengan manusia. Diantara bentuk-bentuk interaksi itu adalah
interaksi anak dengan kedua orang tuanya, interaksi dengan keluarga dan
interaksi dengan masyarakat.
a.
Akhlaq kepada
ibu bapak
Ajaran islam
menempatkan orang tua pada posisi yang sangat istimewa sehingga berbuat baik
terhadap keduanya menempati posisi yang sangat mulia dan sebaliknya durhaka terhadap
keduanya menempati posisi yang sangat hina.
“Dan kami
perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya, ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya
dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang ibu bapakmu,
hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (QS. Lukman 31: 14)
b.
Akhlaq kepada
keluarga
Akhlaq kepada
keluarga adalah mengembangkan kasih saying di antara anggota keluarga yang
diungkapkan dalam bentuk komunikasi. Komunikasi dalam keluarga diungkapkan
dalam bentuk perhatian baik melalui kata-kata, isyarat-isyarat maupun perilaku.
c.
Akhlaq terhadap
masyarakat
Dalam kehidupan
sehari-hari, seorang muslim haruslah berhubungan baik dengan masyarakat, karena
manusia secara fitri itu sebagai makhluk sosial. Agar tercipta hubungan baik
sesame muslim dalam masyarakat, setiap orang harus mengetahui hak dan
kewajibannya masing-masing sebagai anggota masyarakat. Hal ini tercermin dalam
sebuah hadits Nabi Saw:
“Kewajiban
seorang muslim atas muslim lainnya ada lima: menjawab salam, mengunjungi orang
sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, dan menjawab orang bersin” (HR.
Khamsah)
5.
Akhlaq Kepada
Lingkungan Hidup
Agama islam
diturunkan sebagai agama rahmatan lil alamin, artinya agama islam bukan hanya
ditujukan untuk orang-orang islam, tapi untuk seluruh alam. Termasuk juga semua
makhluk hidup yang ada di muka bumi ini.
“Tidaklah Kami
mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam”.
(QS Al-Anbiya’ 21: 107)
Misi tersebut tidak
terlepas dari tujuan diangkatnya manusia sebagai khalifah di muka bumi. Sebagai
wakil Allah yang bertugas memakmurkan, mengelola dan melestarikan alam. Berakhlaq
kepada lingkungan hidup adalah menjalin dan mengembangkan hubungan yang
harmonis dengan alam sekitarnya. Pada intinya, etika islam terhadap alam
semesta hanya mengajarkan satu hal saja yaitu perintah jangan berbuat kerusakan
di muka bumi. Namun yang terjadi sekarang justru bertolak belakang dengan apa
yang diperintahkan oleh Allah Swt.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Akhlak memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan
manusia. Akhlak dapat diartikan sebagai suatu tingkah laku yang tibul dari
dalam diri manusia sendiri dengan didorong oleh motivasi dari dalam diri
manusia tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan terlebih dahulu. Bisa
dikatakan kalau akhlak mucul atas kemauan hati nurani yang terdalam.
Akhlak sendiri terbagi atas dua
jenis yaitu akhlak mahmudah atau akhlak-akhlak terpuji dan akhlak
mazmumah atau akhlak-akhlak tercela. Sebagai umat manusia tentunya kita
harus memiliki akhlak yang baik dengan berpedoman kepada Al-Quran dan Hadist,
karena di dalam kedua pedoman hidup tersebut memuat seluruh aturan-aturan yang
berguna sebagai pembatas dalam melakukan sesuatu selama hidup di dunia. Dengan
berpedoman pada Al-Quran dan Hadist tentunya hidup ini akan menjadi tentram dan
selalu diliputi kebahagiaan.
Aktualisasi akhlak dalam kehidupan
sehari-hari meliputi akhlak kepada Allah SWT, akhlak kepada Rasulullah saw,
akhlak pribadi, kepada sesame manusia dan kepada lingkungan hidup.
DAFTAR PUSTAKA
Elmubarok,
Zaim. dkk. Islam Rahmatan lil’alamin. Semarang: Universitas Negeri
Semarang Press. 2011
No comments:
Post a Comment