Thursday, November 8, 2012

AKHLAK DALAM ISLAM


Pendidikan Agama Islam
AKHLAK DALAM ISLAM

Disusun Oleh:

Ibadi Rohman                            2303422030
Durotun Nashiah                        2303422023
Eka Lutfiyatun                           2303422022


FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2012


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah

            Akhlak merupakan representasi dari pemikiran seseorang yang nampak dari luar. Akhlak sering dijadikan parameter baik buruknya seseorang dilihat dari sudut pandang manusia. Akhlak bersifat relative dalam hal penilaian walaupun hanya disandingkan dari dua sisi yaitu baik dan buruk.

Akhlak merupakan garis pemisah antara yang berakhlak dengan orang yang tidak berakhlak. Akhlak juga merupakan roh Islam yang mana agama tanpa akhlak samalah seperti jasad yang tidak bernyawa. Oleh itu salah satu misi yang dibawa oleh Rasulullah saw ialah membina kembali akhlak manusia yang telah runtuh sejak zaman para nabi yang terdahulu karena penyembahan berhala oleh pengikutnya yang telah menyeleweng.

            Selain itu, akhlak juga merupakan ciri-ciri kelebihan di antara manusia. Akhlak merupakan lambang kesempurnaan iman, ketinggian taqwa dan kealiman seseorang manusia yang berakal. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda yang bermaksud : “Orang yang sempurna imannya ialah mereka yang paling baik akhlaknya”.

            Ketiadaan akhlak yang baik pada diri individu atau masyarakat akan menyebabkan berbagai krisis dalaman dan luaran seperti krisis nilai diri, keruntuhan rumah tangga, masyarakat belia yang mundur dan bisa membawa kepada kehancuran sebuah negara. Presiden Perancis ketika memerintah Perancis dulu pernah berkata : “Kekalahan Perancis di tangan tentara Jerman disebabkan tentaranya runtuh akhlak dan moral”.

            Akhlak tidak dapat dibeli atau dinilai dengan uang . Ia wujud di dalam diri seseorang hasil dari pada didikan kedua orang tua atau penjaga serta pengaruh dari masyarakat sekeliling mereka. Jika sejak kecil kita didedahkan dengan akhlak yang mulia, maka secara tidak langsung ia akan mempengaruhi tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari hinggalah seterusnya.

            Akhlak amat penting karena merupakan asas yang dilakukan oleh Rasulullah saw ketika memulakan pembentukan masyarakat Islam. Sheikh Mohamad Abu Zahrah dalam kitabnya Tanzim al-Islam Li al-Mujtama' menyatakan bahawa budi pekerti atau moral yang mulia adalah satu-satunya asas yang paling kuat untuk melahirkan manusia yang berhati bersih, ikhlas dalam hidup, amanah dalam tugas, cinta kepada kebaikan dan benci kepada kejahatan.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dihadapkan pada tiga hubungan yang mengharuskannya untuk berbuat sesuatu. Yaitu hubungan manusia dengan Allah SWT ( ibadah ), hubungan manusia dengan sesama manusia (muamalah dan uqubat ) dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri (akhlak, makanan, minuman, pakaian, dan lain-lain ).  Ketiga hubungan tadi mengharuskan kita untuk menentukan sikap yang harus diambil sesuai dengan pemikirannya, termasuk akhlak yang akan dibahas lebih mendalam pada makalah ini. Mengingat betapa urgennya akhlak itu dalam kehidupan manusia.



B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
1.         Apa pengertian akhlak dalam islam?
2.         Bagaimana klasifikasi perbuatan manusia dalam islam?
3.         Bagaimana kedudukan agama sebagai sumber akhlak?
4.         Apa saja karakteristik akhlaqul karimah?
5.         Bagaimana pengaktualisasian akhlak dalam kehidupan?

C.     Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.         Agar kita mengetahui apa itu akhlak.
2.         Untuk mengetahui mana akhlak yang baik dan yang buruk.
3.         Untuk mengetahui seberapa pentingnya peran agama dalam membangun akhlak yang baik.
4.         Agar kita dapat mengetahui lebih dalam tentang akhlakqul karimah.
5.         Setelah kita mengetahui tentang akhlak dalam islam, diharapkan kita dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.












BAB II
ISI



A.      Pengertian Akhlak dan Perbedaannya dengan Moral dan Etika
Akhak atau sistem perilaku merupakan tolok ukur perbuatan manusia yang terdapat acuan untuk menilai perbuatan tersebut baik atau buruk berdasarkan ajaran dari Allah. Akhlak tewujud melalui proses aplikasi sestem nialai atau norma yang bersumber dari Al-Quran dan Hadis yang bersifat mengarahkan, membimbing dan membangun peradaban manusia. Sedangkan etika terbentuk dari sistem nilai/norma yang berlaku secara alamiah dalam masyarakat dan dapat berubah menurut kesepakatan dan persetujuan dari masyarakatnya pada dimensi waktu dan ruang tertentu. Moral dipakai sebagai tolok ukur untuk menilai suatu perbuatan yang dilakukan seseorang atau menyatakan ukuran, sementara etika digunakan sebagai kerangka acuan untuk mengkaji sistem-sistem nilai atau kode, atau menjelaskan ukuran tersebut.

B.       Klasifikasi Perbuatan Manusia
Al-Ghazali membagi akhlak menjadi dua, yaitu akhlak mahmudah (akhlak terpuji) dan akhlak mazmumah (akhlak tercela). Aklak mahmudah yaitu Al-amanah (dapat dipercaya), al-sidqu (berkata benar), al-adil (adil), al-afwu (pemaaf), al-wafa (menepati janji), al-sabru (sabar), al-rahmah (kasih sayang), dan sebagainya. Sedangkan akhlak mazmumah meliputi aninah (egois), al-bagyu (lacur), al-bakhil (kikir), al-zulm (aniaya), al-ghadab (pemarah), al-ghibah (pengumpat) , dan sebaginya.
Contoh al-amanah dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan menjaga dan menjalankan apa yang sudah menjadi amanat kita. Misalnya saja kita diberi kepercayaan oleh orang tua untuk bisa menuntut ilmu maka kita harus berusaha sebisa mungkin agar tidak mengecewakan mereka. Sedangkan contoh aninah dalam kehidupan sehari-hari yaitu saat kita menjalani kehidupan dengan bersosialisasi namun kita tidak memperdulikan kepentingan orang lain kita hanya mau tau urusan kita sendiri.

C.       Agama Sebagai Sumber Akhlak
Al-Quran mengajak pemeluknya untuk menjalani kehidupan ini seideal mungkin dan secara keseluruhan dalam semua seginya dengan mennjadikan Al- Quran dan As-Sunnah sebagai rujukannya. Ruang lingkup agama Islam tidak terbatas mengenai kehidupan akhirat saja melainkan berurusan dengan kehidupan dunia, agar dengan hidup lurus di dunia, manusia mencapai kesadaran akan adanya kehidupan yang lebih tinggi. Itulah sebabnya Al-Quran membahas macam-macam pokok persoalan yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia di dunia. Seperti halnya kehidupan social dan politik, pelayanan umum, maupun perkawinan.
Islam telah meletakkan persaudaraan umat manusia yang tak mengenal perbedaan warna kulit, suku bangsa, Negara, bahasa atau derajat. Islamlah yang telah meletakkan dasar persatuan umat manusia yang tak dapat dijangkau oleh akal pikiran manusia. Islam bukan saja mengakui persamaan hak sipil dan hak politik manusia tetapi juga mengakui persamaan hak dan bidang ruhani. Ajaran pokok agama Islam adalah “Manusia adalah umat yang satu” (QS. 2:1).
Akhlak adalah ajaran Islam yang paling dasar, seperti halnya sabda Nabi “sesungguhnya aku diutus (tiada lain, tiada bukan) supaya menyempurnakan akhlak yang mulia”. Dalam pandangan Islam, akhlak merupakan satu-satunya ukuran yang menjadi garis pemisah antara mana perbuatan yang baik dan mana yang tidak baik. Ajaran Islam bersumber pada norma-norma pokok yang dicantumkan dalam Al-Quran dan sunnah Rasulullah saw sebagai suri tauladan yang memberi contoh dan mempraktekan Al-Quran. Nabi juga memberikan teladan yang sangat tegas tentang akhlak baik terhadap sesama manusia maupun makhluk Allah lainnya.
Akhlak memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia baik sebagai makhluk individu maupun masyarakat dan bangsa, sebab jatuh bangunnya suatu masyarakat tergantung pada keberadaan akhlaknya. Apabila akhlaknya baik maka sejahteralah lahir dan batinnya dan sebaliknya jika akhlaknya rusak maka rusaklah lahir dan batinnya. Seseorang dapat dikatakan berakhlak jika timbul dengan sendirinya, didorong oleh motivasi dari dalam diri dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan pemikiran. Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan muncul secara spontan apabila diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan terlebih dahulu, serta tidak memerlukan dorongan dari luar.

D.      Karakteristik Akhlaqul Karimah
Akhlaqul karimah (perilaku yang mulia) mempunyai karakteristik yang jelas dan nyata bagi pelakunya. Menurut M. Yatimin Abdullah, karakteristik ajaran islam dalam bidang ilmu dan kebudayaan, pendidikan, sosial, ekonomi, kesehatan, politik, pekerjaan, dan berbagai disiplin ilmu.
Karakteristik ajaran akhlaqul karimah ialah suatu karakter yang harus dimiliki oleh seorang muslim dengan berdasarkan Alqur’an dan Hadits dalam berbagai bidang ilmu, kebudayaan, pendidikan, sosial, ekonomi, kesehatan, politik, pekerjaan, dan berbagai disiplin ilmu.

1.        Akhlak bidang ilmu dan kebudayaan
Karakteristik ajaran akhlaqul karimah jika dihubungkan dalam bidang ilmu dan kebudayaan bersifat terbuka dan akomodatif namun selektif. Terbuka dan akomodatif terhadap masukan dari luar namun selektif yaitu tidak begitu saja menerima seluruh ilmu dan kebudayaan melainkan sejalan dengan ajaran akhlak islami dan karakter islam itu sendiri.
Karakteristik ajaran akhlaqul karimah dalam islam dapat mendorong pelakunya untuk menciptakan kebudayaan islam yang didasarkan pada empat factor, yaitu menghormati akal dan menyuruh manusia menggunakan akalnya untuk memikirkan alam, mewajibkan pelakunya untuk menuntut ilmu, melarang pelakunya bersikap taqlid uta dan menyuruh pelakunya memeriksa dan mmbuktikan kebenaran secara hakiki.
2.        Akhlak bidang sosial
Karakteristik ajaran akhlaqul karimah di bidang sosial ini termasuk yang paling menonjol karena seluruh bidang ajaran akhlaqul karimah dalam bidang sosial ditujukan untuk menyejahterakan manusia.
Karakterisirtik ajaran akhlaqul karimah menuntun cara menuju tercapainya kehidupan sosial yang harmonis, misalnya ajaran shalat jama’ah di masjid untuk menanamkan rasa persamaan dan persaudaraan antar sesama, khususnya antar umat islam dan membangun ukhuwah islamiah, ajaran puasa untuk menanamkan persamaan, persaudaraan, dan rasa senasib dan sepenanggungan, dan sebagainya.
3.        Akhlak bidang ekonomi
Asas-asas pokok pendirian ekonomi menurut karakteristik ajaran akhlaqul karimah adalah sebagai berikut, (1) kewajiban berusaha, ajaran akhlaqul karimah menegaskan bahwa pengangguran, hidup meminta-minta adalah perbuatan dosa dan melarang sekeras-kerasnya apalagi putus asa. (2) kewajiban membasmi pengangguran, agar kemiskinan teratasi. (3) mengakui hak milik, membolehkan seorang mencari harta dengan tangannya sendiri atau menerima pemberian dari orang lain secara sah dan memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk memiliki, memakai, dan menggunakan serta memberikan hartanya kepada orang lain. (4) mewajibkan pada pelakunya agar tunduk di bawah kesejahteraan sosial, bahwa pengakuan hak milik sebagai asas ekonomi islam harus mengutamakan kepentingan masyarakat umum.


4.        Akhlak bidang kesehatan
Karakteristik ajaran akhlaqul karimah mewajibkan memelihara kesehatan dengan cara mengajak dan menganjurkan seseorang untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta menjaga kesehatan.
Karakteristik akhlaqul karimah tentang kesehatan berpedoman pada prinsip pencegahan lebih baik dari pada mengobati. Allah swt berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan senang kepada orang-orang yang membersihkan diri” (QS. 2 : 222). Segi kesehatan batin misalnya dengan konsep taubat dalam rangka menghasilkan kesehatan mental.
5.        Akhlak bidang politik
Islam tidak mengajarkan ketaatan buta terhadap pemimpin. Islam menghendaki suatu ketaatan kritis, yaitu ketaatan yang didasarkan pada kebenaran dari Allah dan Rasul-Nya. Ketika Nabi saw. di Madinah, beliau menjadi kepala Negara sekaligus rasul. Para peneliti sejarah mengatakan bahwa corak politik yang ditetapkan oleh Nabi saw. Adalah teo-demokratis yaitu suatu pola pemerintahan yang dalam menyelesaikan persoalan terlebih dulu melakukan musyawarah, setelah itu menunggu ketetapan Allah. Ini disebabkan karena pada masa Nabi saw. wahyu masih dalam proses turun.
6.        Akhlak bidang pekerjaan
Karakteristik ajaran akhlaqul karimah dalam bidang pekerjaan dapat dilihat dari anjuran wajib kerja. Islam memandang bekerja sebagai ibadah kepada Allah. Karakteristik ajaran akhlaqul karimah dalam islam diantaranya adalah prinsip keseimbangan antara mengusahakan untuk dunia dan akhirat.
7.        Akhlak budang sains modern
Karakteristik ajaran akhlaqul karimah sangat menekankan pentingnya sains modern dan disiplin dalam berbagai kehidupan, terutama disiplin waktu, sampai ada pepatah yang mengatakan waktu adalah pedang, siapa yang tidak mampu memanfaatkannya maka ia akan tertindas oleh waktu itu sendiri.
Karakteristik ajaran akhlaqul karimah mengenai sains modern sangat dibutuhkan sebab menerapkan sains modern pada eseorang, membuat orang tersebut tetap berpegang teguh pada peraturan dan takkan tergoyahkan aqidahnya. 


E.       Akhlaq dan aktualisasinya dalam kehidupan
Secara garis besar ajaran akhlaq islam meliputi 2 wilayah pembahasan, yaitu akhlaq manusia dengan Allah Swt. Dan akhlaq manusia dengan sesame ciptaan-Nya. Akhlaq manusia dengan sesame ciptaan Allah Swt. Dibagi menjadi 2 bagian yaitu akhlaq antara manusia dengan manusia dan akhlaq antara manusia dengan lingkungan hidup.
1.        Akhlaq Terhadap Allah Swt.
Pola hubungan yang harus dibangun antara manusia dengan Allah swt diantaranya yaitu:

a.         Mentauhidkan Allah.
Yaitu mengesakan-Nya baik dalam zat, asma’ washiffat maupun af’al (perbuatan-Nya) serta menjauhkan diri dari perbuatan syirik yang bisa menghancurkan sendi-sendi moral dan kehidupan manusia.
b.        Bertaqwa.
Memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Seorang yang hati-hati sekali menjaga segala perintah Allah, supaya tidak meninggalkannya. Dalam Firman-Nya “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam”(QS. Ali Imran 3: 102)



c.         Cinta dan Ridha
“Katakanlah:”jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran 3: 3)
Ayat tersebut menyuruh kita orang-orang mukmin agar yang pertama dan utama yang dicintai adalah Allah Swt. Allah lebih dicintainya daripada segala-galanya. Seseorang dikatakan mencintai Allah jika dia selalu berusaha melakukan segala sesuatu yang dicintai-Nya, dan meninggalkan segala sesuatu yang tidak disukai atau dibenci-Nya.
d.        Ikhlas
Ikhlas adalah berbuat tanpa pamrih, hanya semata-mata mengharap ridha Allah swt. Ikhlas adalah syarat diterimanya suatu amalan, baik yang menyangkut amalan dunia maupun amalan akhirat. Niat yang ikhlas harus diikuti dengan kualitas amal yang sebaik-baiknya.
“Sesungguhnya Allah Swt menyukai, bila seseorang beramal, dia melakukannya dengan sebaik-baiknya…” (HR. Baihaqi)
Seorang mukhlis  tidak akan sombong ketika meraih keberhasilan dan tidak akan putus asa ketika mengalami kegagalan. Tidak lupa diri ketika menerima pujian dan tidak mundur ketika mendapatkan cacian, sebab dia berbuat semata-mata hanya karena Allah Swt. Sebaliknya, dia akan selalu bersemangat dalam beramal karena terdorong untuk mendapatkan ridho dari Allah Swt.
Lawan dari ikhlas adalah riya’, yaitu berbuat bukan karena Allah melainkan karena ingin mendapatkan pujian dan sanjungan dari orang lain.
“Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan terjadi pada kalian adalah syirik kecil”. Sahabat bertanya: “apakah syirik kecil itu ya Rasulullah?” Rasul menjawab: “Riya’.” (HR. Ahmad)
e.         Tawakal
Adalah membebaskan hati dari segala ketergantungan kepada selain Allah dan menyerahkan segala keputusan hanya kepada Allah Swt. Tawakal harus diawali dengan kerja keras dan usaha maksimal (ikhtiar). Tidaklah dinamai tawakal kalau hanya pasrah menunggu nasib sambil berpangku tangan tanpa melakukan apa-apa.
f.         Syukur
Ialah memuji si pemberi nikmat atas kebaikan yang telah dilakukannya. Syukur harus melibatkan tiga dimensi yaitu hati, untuk ma’riffah dan mahabbah, lisan untuk memuja dan menyebut asma Allah dan anggota badan untuk menggunakan nikmat yang diterima sebagai sarana untuk taat kepada Allah dan menahan diri dari maksiat kepada-Nya
“dan ingatlah, ketika Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim 14: 7)
g.        Muraqabah
Muraqabah berakar dari kata raqaba yang berarti menjaga, mengawal, menanti dan mengamati. Semua pengertian ini tersimpul dalam satu kata yaitu pengawasan. Muraqabah yang dimaksud disini adalah kesadaran seorang muslim bahwa dia selalu berada dalam pengawasan Allah Swt. Kesadaran itu lahir dari keimanannya bahwa Allah Swt dengan sifat ‘ilmu, basher dan sama’ (mengetahui, melihat dan mendengar) Nya mengetahui apa saja yang dia lakukan kaan dan dimana saja. Dia mengetahui apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh hamba-Nya. Tidak ada satupun dari aktivitas manusia yang luput dari pengawasan-Nya. Firman Allah:
“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Al Mukmin 40: 19)
h.        Taubat
Taubat adalah sebuah kebijakan Allah untuk menerima kembali hamba-Nya yang telah menjauhkan diri dari-Nya dan menginginkan untuk kembali ke jalan yang benar setelah melakukan kesalahan-kesalahan. Bertaubat kepada Allah memiliki makna kembali menuju ketaatan setelah melakukan kemaksiatan, kembali pada Allah setelah meninggalkan-Nya dan kembali taat setelah menentang-Nya.
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, kemudian tetap dijalan yang benar.” (QS. Thaha 20: 82)
2.        Akhlaq Terhadap Rasulullah Saw.
Akhlaq Terhadap Rasulullah Saw adalah cara kita berinteraksi secara tidak langsung kepada Rasulullah Saw. Yang meliputi tata cara kita bersikap kepada beliau dan tata cara kita berinteraksi dengan segala sesuatu yang dibawanya.
Contoh akhlaq terhadap Rasulullah diantaranya adalah mencintai dan memuliakannya. Mencintai Rasulullah juga berarti mencintai orang-orang yang dicintai beliau dan membenci orang-orang yang dibencinya, lebih khusus lagi mencintai dan memuliakan keluarga dan sahabat-sahabat beliau.
“janganlah kamu cela sahabat-sahabatku. Andaikata seseorang diantara kamu memberikan infaq emas sebesar gunung Uhud, tidak akan sampai menyamai satu mud (infaq) salah seorang diantara mereka, bahkan setengah mud pun tidak.” (HR. Bukhari)
Salah satu contoh lain untuk membuktikan rasa cinta kita kepada Rasulullah adalah mengucapkan shalawat dan salam untuknya. Sebagaimana diperintahkan Allah:
“sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab 33: 56)
Demikian beberapa bentuk interaksi dengan Rasulullah yang masih dan terus bisa kita lakukan sampai kapanpun, sebagai perwujudan keimanan kita kepada Allah Swt.
3.        Akhlaq Pribadi
Menurut imam Al Ghozali, “Akhlaq adalah sebuah keadaan yang tetap dalam jiwa yang darinya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa membutuhkan pemikiran lagi”. Perilaku seseorang akan mencerminkan akhlaq yang baik manakala selalu dilandasi dengan nilai-nilai yang universal sudah diterima baik dalam pandangan manusia maupun dalam pandangan Allah Swt. Oleh karenanya setiap muslim harus menginternalisasi nilai-nilai atau sifat-sifat itu ke dalam dirinya sehingga menjadi bagian dari kepribadiannya. Nilai-nilai itu diantaranya shidiq, amanah, istiqomah, iffah, tawadhu’, malu, sabar, pemaaf dan sebagainya.
a.         Shidiq
Artinya benar atau jujur, lawan kata dari dusta atau bohong. Seorang muslim dituntut untuk selalu berada dalam keadaan benar lahir batin, benar hati, benar perkataan dan benar perbuatan.
b.        Amanah
Amanah artinya dipercaya, seakar dengan kata iman. Sifat amanah lahir dari kekuatan iman. Semakin menipis keimanan seseorang semakin pudar pula sifat amanah pada dirinya. Antara keduanya terdapat kaitan yang sangat erat, sabda Nabi Saw: “Tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak amanah, dan tidak (sempurna) agama orang yang tidak menunaikan janji.” (HR. Ahmad)
c.         Istiqomah
Secara etimologis, istiqomah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Dalam istilah akhlaq, istiqomah adalah sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun menghadapi berbagai tantangan dan godaan. Seorang yang istiqomah laksana batu karang di tengah-tengah lautan yang tidak bergeser sedikitpun walaupun dipukul oleh gelombang yang bergulung-gulung. Perintah supaya beristiqomah sebagaimana dinyatakan oleh Allah :
“maka beristiqomahlah kamu kepada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan juga orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. As-Syura 42: 15)
d.        Iffah
Etimologis, iffah adalah bentuk masdar dari affa-ya’iffu-‘iffah yang berarti menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik. Juga berarti kesucian tubuh. Secara terminologis, iffah adalah memelihara kehormatan diri dari segala hal yang akan merendahkan, merusak dan menjatuhkannya. Untuk menjaga kehormatan diri tersebut, setiap orang haruslah menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang dilarang oleh Allah. Dia harus mengendalikan hawa nafsunya, tidak saja dari hal-hal yang haram, bahkan kadang-kadang harus juga menjaga dirinya dari hal-hal yang halal karena bertentangan dengan kehormatan dirinya.
e.         Tawadhu’
Tawadhu’ artinya rendah hati, kebalikan dari sombong atau takabur. Orang yang rendah hati tidak memandang dirinya lebih hebat dari orang orang lain, sementara orang sombong menghargai dirinya secara berlebihan. Rendah hati berbeda dengan rendah diri, sekalipun dalam prakteknya orang yang rendah hati cenderung merendahkan dirinya dihadapan orang lain, tetapi sikap tersebut lahir dari rasa tidak percaya diri.
Sikap Tawadhu’ adalah sifat mulia yang lahir dari kesadaran akan Kemahakuasaan Allah atas semua hamba-Nya. Manusia adalah makhluk lemah yang tidak punya apa-apa di hadapan Allah Swt.
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan”. (QS. An Nahl 16: 53)
f.         Malu
Malu atau dalam bahasa arab al-hayaa’u, adalah sikap menahan segala kecenderungan berbuat keburukan, kedzaliman, kekejian, kesewenang-wenangan dan tindak maksiat lainnya. Orang yang memiliki rasa malu akan mendapatkan banyak kebaikan. Rasulullah bersabda:
“Sifat malu merupakan kumpulan kebaikan.” (HR. Muslim)
Karenanya siapa saja yang memiliki rasa malu, sungguh dia telah mendapatkan nikmat yang sempurna dari Allah Swt. Perasaan malu merupakan ciri yang sangat khas akhlaq mulia dalam pandangan islam. Sabda Nabi:
“Setiap agama mempunyai akhlaq, dan akhlaq islam yang fundamental adalah rasa malu.” (HR. Imam Malik)
g.        Sabar
Secara etimologis berarti menahan dan mengekang, sedangkan secara istilah, sabar bermakna menahan diri dari segala sesuatu yang tidak disukai karena mengharapkan ridho Allah.
Seorang muslim dituntut memiliki sifat sabar dalam berbagai situasi, seperti sabar dalam menerima cobaan, sabar dari keinginan hawa nafsu, sabar dalam taat kepada Allah, sabar dalam berdakwah, sabar dalam perang dan sabar dalam pergaulan.
h.        Pemaaf
Pemaaf adalah sikap suka member maaf terhadap kesalahan orang lain tanpa harus menunggu orang yang bersalah itu meminta maaf kepada dirinya. Menurut Quraish shihab, tidak ditemukan satu ayatpun yang menganjurkan untuk meminta maaf, tetapi yang ada adalah perintah untuk member maaf.
“… maafkanlah mereka dan berlapang dadalah, sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan (terhadap yang melakukan kesalahan kepadanya)” (QS. Al Maidah 5: 13)
4.        Akhlaq Terhadap Sesama Manusia
Ajaran islam selain mengatur interaksi manusia dengan Allah Swt. Juga mengatur interaksi antara manusia dengan manusia. Diantara bentuk-bentuk interaksi itu adalah interaksi anak dengan kedua orang tuanya, interaksi dengan keluarga dan interaksi dengan masyarakat.
a.         Akhlaq kepada ibu bapak
Ajaran islam menempatkan orang tua pada posisi yang sangat istimewa sehingga berbuat baik terhadap keduanya menempati posisi yang sangat mulia dan sebaliknya durhaka terhadap keduanya menempati posisi yang sangat hina.
“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (QS. Lukman 31: 14)


b.        Akhlaq kepada keluarga
Akhlaq kepada keluarga adalah mengembangkan kasih saying di antara anggota keluarga yang diungkapkan dalam bentuk komunikasi. Komunikasi dalam keluarga diungkapkan dalam bentuk perhatian baik melalui kata-kata, isyarat-isyarat maupun perilaku.
c.         Akhlaq terhadap masyarakat
Dalam kehidupan sehari-hari, seorang muslim haruslah berhubungan baik dengan masyarakat, karena manusia secara fitri itu sebagai makhluk sosial. Agar tercipta hubungan baik sesame muslim dalam masyarakat, setiap orang harus mengetahui hak dan kewajibannya masing-masing sebagai anggota masyarakat. Hal ini tercermin dalam sebuah hadits Nabi Saw:
“Kewajiban seorang muslim atas muslim lainnya ada lima: menjawab salam, mengunjungi orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, dan menjawab orang bersin” (HR. Khamsah)
5.        Akhlaq Kepada Lingkungan Hidup
Agama islam diturunkan sebagai agama rahmatan lil alamin, artinya agama islam bukan hanya ditujukan untuk orang-orang islam, tapi untuk seluruh alam. Termasuk juga semua makhluk hidup yang ada di muka bumi ini.
“Tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam”. (QS Al-Anbiya’ 21: 107)
Misi tersebut tidak terlepas dari tujuan diangkatnya manusia sebagai khalifah di muka bumi. Sebagai wakil Allah yang bertugas memakmurkan, mengelola dan melestarikan alam. Berakhlaq kepada lingkungan hidup adalah menjalin dan mengembangkan hubungan yang harmonis dengan alam sekitarnya. Pada intinya, etika islam terhadap alam semesta hanya mengajarkan satu hal saja yaitu perintah jangan berbuat kerusakan di muka bumi. Namun yang terjadi sekarang justru bertolak belakang dengan apa yang diperintahkan oleh Allah Swt.



BAB III
PENUTUP


KESIMPULAN
Akhlak memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Akhlak dapat diartikan sebagai suatu tingkah laku yang tibul dari dalam diri manusia sendiri dengan didorong oleh motivasi dari dalam diri manusia tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan terlebih dahulu. Bisa dikatakan kalau akhlak mucul atas kemauan hati nurani yang terdalam.
            Akhlak sendiri terbagi atas dua jenis yaitu akhlak mahmudah atau akhlak-akhlak terpuji dan akhlak mazmumah atau akhlak-akhlak tercela. Sebagai umat manusia tentunya kita harus memiliki akhlak yang baik dengan berpedoman kepada Al-Quran dan Hadist, karena di dalam kedua pedoman hidup tersebut memuat seluruh aturan-aturan yang berguna sebagai pembatas dalam melakukan sesuatu selama hidup di dunia. Dengan berpedoman pada Al-Quran dan Hadist tentunya hidup ini akan menjadi tentram dan selalu diliputi kebahagiaan.
            Aktualisasi akhlak dalam kehidupan sehari-hari meliputi akhlak kepada Allah SWT, akhlak kepada Rasulullah saw, akhlak pribadi, kepada sesame manusia dan kepada lingkungan hidup.



DAFTAR PUSTAKA

Elmubarok, Zaim. dkk. Islam Rahmatan lil’alamin. Semarang: Universitas Negeri Semarang Press. 2011

No comments:

Post a Comment