Sunday, December 2, 2012

BUDAYA DIENG DAN DESA GYANTI WONOSOBO


PENGANTAR ILMU BUDAYA
BUDAYA DIENG DAN DESA GYANTI
WONOSOBO


                                                                                   

Disusun oleh :
Eka Lutfiyatun
2303411022


FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2011

BUDAYA DIENG DAN DESA GYANTI
WONOSOBO

A.      Sekilas tentang Dieng     
Dieng adalah sebuah kawasan di daerah dataran tinggi di perbatasan antara Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Desa Dieng terbagi menjadi Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng Kidul, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.
Kawasan ini terletak sekitar 26 km di sebelah Utara ibukota Kabupaten Wonosobo, dengan ketinggian mencapai 6000 kaki atau 2.093 m di atas permukaan laut. Suhu di Dieng sejuk mendekati dingin. Temperatur berkisar 15—20°C di siang hari dan 10°C di malam hari. Bahkan, suhu udara terkadang dapat mencapai 0°C di pagi hari, terutama antara Juli—Agustus. Penduduk setempat menyebut suhu ekstrem itu sebagai bun upas yang artinya "embun racun" karena embun ini menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.
Beberapa peninggalan budaya dan cagar alam telah dijadikan sebagai obyek wisata dan dikelola bersama oleh dua kabupaten, yaitu Banjarnegara dan Wonosobo. Berikut beberapa obyek wisata di Dieng:
1.        Telaga Werna, sebuah telaga yang sering memunculkan nuansa warna merah, hijau, biru, putih, dan lembayung
2.        Telaga Pengilon
3.        Kawah: Sikidang, Sileri, Sinila (meletus dan mengeluarkan gas beracun pada tahun 1979 dengan korban 149 jiwa)
4.        Kompleks Candi-candi Hindu yang dibangun pada abad ke-7, antara lain: Gatotkaca, Bima
5.        Gua Semar
6.        Sumur Jalatunda
7.        Mata air Sungai Serayu

Nama Dieng berasal dari bahasa Sunda Kuno "Di" yang berarti "tempat" atau "gunung" dan "Hyang" yang bermakna (Dewa). Dengan demikian, Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam. Nama Dieng berasal dari Bahasa Sunda karena diperkirakan sebelum tahun 600 daerah itu didiami oleh Suku Sunda dan bukan Suku Jawa.
Candi-candi di Dieng dipercaya sebagai tanda awal peradaban Hindu di Pulau Jawa pada masa Sanjaya pada abad ke-8. Hal ini ditunjukkan dengan adanya gugusan candi di Dieng yang konon untuk memuja Dewa Syiwa. Candi-candi tersebut antara lain: Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, Candi Gatot Kaca. Sedangkan untuk penamaan candi-candi itu sendiri dipercaya baru dimulai pada abad ke-19. Hal ini ditunjukkan dengan adanya relief-relief yang ada pada candi tersebut. Misalnya pada Candi Srikandi, relief yang terlukis justru merupakan penggambaran dari wujud Dewa Syiwa. Candi-candi tersebut dibangun dengan menggunakan konstruksi batu Andesit yang berasal dari Gunung Pakuwaja yang berada di Selatan komplek Candi Dieng.
Dieng terbentuk dari gunung api tua yang mengalami penurunan drastis (dislokasi), oleh patahan arah barat laut dan tenggara. Gunung api tua itu adalah Gunung Prau. Pada bagian yang ambles itu muncul gunung-gunung kecil yaitu: Gunung Alang, Gunung Nagasari, Gunung Panglimunan, Gunung Pangonan, Gunung Gajahmungkur dan Gunung Pakuwaja.
Beberapa gunung api masih aktif dengan karakteristik yang khas. Magma yang timbul tidak terlalu kuat tidak seperti pada Gunung Merapi. Sedangkan letupan-letupan yang terjadi adalah karena tekanan air bawah tanah oleh magma yang menyebabkan munculnya beberapa gelembung-gelembung lumpur panas. Fenomena ini antara lain dapat dilihat pada Kawah Sikidang atau Kawah Candradimuka .



Selain objek-objek di atas, kawasan wisata Dieng juga memilili jajaran situs-situs budaya berupa bangunan candi yang berdiri megah seperti berikut ini:
a.         Candi Bima
Candi Bima terletak paling selatan di kompleks Percandian Dieng. Pintu masuk berada di sisi timur. Candi ini cukup unik dibanding dengan candi-candi lain, baik di Dieng maupun di Indonesia pada umumnya, karena kemiripan arsitekturnya dengan beberapa candi di India. Pada bagian atap terdapat relung dengan relief kepala yang disebut dengan kudu. Candi ini sekarang berada dalam kondisi buruk, antara lain karena beberapa kali kasus pencurian arca kudu tersebut serta rusak akibat solfatara dari Kawah Sikidang.
b.        Candi Gatotkaca
Candi Gatotkaca adalah candi Hindu yang berada di Dataran Tinggi Dieng, di wilayah Kabupaten Banjarnegara, Propinsi Jawa Tengah. Candi ini terletak di sebelah barat kompleks Candi Arjuna, di tepi jalan ke arah Candi Bhima, di seberang Museum Dieng Kailasa. Dahulu,
 Candi Gatotkaca merupakan bagian dari kompleks yang terdiri atas enam bangunan candi. Nama Gatotkaca sendiri diberikan oleh penduduk dengan mengambil nama tokoh wayang dari cerita Mahabarata. Candi Gatotkaca berdenah bujursangkar dengan pintu berada pada dinding sisi barat. Pada ketiga sisi dinding yang lain terdapat relung berhias kala-makara.
c.         Candi Arjuna
Candi Arjuna adalah sebuah kompleks candi Hindu peninggalan dari abad ke-7-8 yang terletak di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia.
Dibangun pada tahun 809, Candi Arjuna merupakan salah satu dari delapan kompleks candi yang ada di Dieng. Ketujuh candi lainnya adalah Semar, Gatotkaca, Puntadewa, Srikandi, Sembadra, Bima dan Dwarawati.
Di kompleks candi ini terdapat 19 candi namun hanya 8 yang masih berdiri. Bangunan-bangunan candi ini saat ini dalam kondisi yang memprihatinkan. Batu-batu candi ada yang telah rontok, sementara di beberapa bagian bangunan ini terlihat retakan yang memanjang selebar 5 cm. Selain itu, bangunan ini sudah mulai miring ke arah barat. Fondasi timurnya telah amblas sekitar 15 hingga 20 cm.
Lingkungan sekitar candi juga tidak mendukung pemeliharaan. Lahannya sudah lama digarap penduduk untuk lahan pertanian tanaman kentang, sayur-mayur, dan bunga-bungaan.

B.       Kebudayaan Masyarakat Giyanti
Tari Lengger adalah salah satu cabang kesenian tarian Jawa. Konon , kata Lengger sendiri tersusun atas kata "Elinga Ngger" yang artinya "Ingatlah Nak (perempuan)". Ada beberapa sumber yang mengatakan tari lengger berasal dari Kerajaan Kediri.Konon , Putri dari Raja Brawijaya , Dewi Sekartaji , kabur dari rumah karena akan dijodohkan dengan Prabu Klono dari kerajaan Sebrang. Rajapun mengadakan sayembara. Barang siapa berhasi membawa pulang Putri jika wanita dijadikan saudara dan jika lelaki akan dijadikan suaminya.
Maka pangeran - pangeran dari kerajaan di nusantara bergegas mencarinya. Singkat cerita hanya tersisia dua peserta yaitu Raden Panji Asmara Bangun yang menyamar sebagai Joko Kembang Kuning dari kerajaan Jenggala dab Prabu Klono sendiri.
Maka Joko Kembang Kuning dan pengawalnya menyamar sebagai penari keliling yang berpindah - pindah dari satu desa ke desa lain. Mereka memainkan peranya sebagai lelaki yang memakai topeng wanita dan diiringi musik seadanya. Ternyata tiap pementasanya mendapat sambutan yang meriah dan akhirnya dinamai Lengger dari kata Ledek (penari) dan geger (gempar/ramai).
Akhirnya di suatu desa, Dewi Sekartaji keluar dari persembunyianya dan menonton penari-penari Lengger yang sebenarnya adalah Joko Kembang Kuning. Tapi Prabu Klono juga mengetahui keberadaan Sang Putri dan mengutus kakaknya , Retno Tenggaron beserta prajurit - prajurit wanitanya untuk melamar Dewi Sekartaji. Tentu lamaran ditolak. Merekapun bertarung yang dimenangkan oleh Sang Putri.
Singkat cerita Joko Kembang Kuning dan Dewi sekartaji pun menikah. Namun Prabu Klono tidak terima dan mengajak berkelahi si Joko Kembang kuning. Tentu saja dimenangkan Joko Kembang Kuning. dan pernikahan mereka berlangsung meriah dengan hiburan Tari Lengger.
Tari lengger dalam perkembanganya menimbulkan aura negatif karena kerap kali embangkitkan syahwat penontonya atau penarinya karena memang gerakaknya agak "Hot". Tapi Sunan Kalijaga berhasil memutarbalikanya. Beliau berhasil merubah teri Lengger sebagai ajang penyebaran agama islam. Saat ada penonton yang mendekati si penari , dan mulai horny , Sunan kalijaga yang menyamar menjadi penari wanita akan membuka topengnya.
Tari ini mengabdung filosofi/pesan 'Ingatlah pada yang maha kuasa , jangan silau pada gemerlapnya dunia , dan jangan terbawa pada suasana'
Biasanya tari ini dimainkan saat ada acara tertentu, seperti hajatan , dll.
Tapi yaa.. Akibat dari modernisasi dan  westernisasi , tari ini tergeser tempatnya dengan tarian - tarian anak muda jaman sekarang. Tapi saya bersyukur karena di desa tempat saya tinggal (Tuksari, kecamatan Kledung kabupaten Temanggung), masih mengadakan pementasan Tari Lengger.
Kebudayaan yang ada di masyarakat giyanti salah satunya adalah tari lengger. Beberapa tarian yang ditampilkan oleh lengger yang diiringi dengan musik gamelan. Macam-macamnya yaitu :

1.        Tarian rangu-rangu (Bondan)
Tarian ini menceritakan tentang sejauh ketika kita berada dalam alam bawah sadar kita masih ingat dengan anak istri.
Salah satu gerakannya adalah seorang lengger yang diangkat untuk diletakkan di pundak  seorang pria (baca: suami) dan membawa boneka (melambangkan anak) dan berjalan melingkar yang menyimbolkan bahwa keluarga diatas segalanya.
Saat melakukan tarian ini penari pria berada dalam keadaan dua hal, yang pertama dalam keadaan sadar(dalam keadaan sadar ada kesesuaian antara gerakan tarian dengan patokan waktu yang telah ditentukan). Yang kedua yaitu dalam keadaan yang dalam pengaruh dengan hal ghoib. Tarian ini menggunakan iringan gamelan rangu-rangu.
2.        Tarian kuda kepang prajurit
Tarian ini menceritakan tentang kegagahan masyarakat giyanti waktu latihan pada masa Adipati Mertoloyo (pendiri dusun giyanti).
Tarian ini sendiri telah ada sebelum tahun 1932. Menurut sesepuh di desa giyanti Mbah Wito menerangkan bahwa tarian ini sudah ada sebelum beliau lahir (tahun 1932). Iringan yang digunakan dalam tarian ini adalah kema/gendhing dan coran.
3.        Tarian jangkrik genggong
Tarian ini menggambarkan keadaan jangkrik yang ada dalam genggong (lumpur). Tarian jangkrik genggong menggunakan iringan gamelan jangkrik genggong. Biasanya 2 penari dengan 1 pria 1 wanita.
4.        Tarian gondang keli
Tarian ini menceritakan tentang perjalanan kematian orang–orang muslim. Tarian ini diwariskan secara turun temurun. Sebelumnya tarian yang ada adalah tarian tayub. Namun terian tayub semakin bergeser dan tergantikan oleh tarian gondang keli.


5.        Tarian sontoloyo
Sontoloyo artinya tua yang tidak punya daya. Tarian ini menggambarkan masyarakat yang kehilangan 2 ajaran sebelumnya yaitu hindu dan budha.
6.        Tarian bangilun
Tarian bangilun merupakan tarian khas dari Giyanti yang hampir punah karena tidak ada penerusnya. Tarian ini selain bertujuan untuk menghibur, tarian ini juga untuk media  syiar islam di Wonosobo. Tarian ini ditarikan oleh 6 orang penari wanita yang diiringi dengan bedhug, gendhang dan rebana.
7.        Tari gambyong
Makna dari tarian ini adalah menggambarkan seorang gadis yang mulai beranjak dewasa dan suka merias dirinya. Tarian ini ditarikan oleh  4 orang lengger dan diiringi dengan pangkur dan girunjing. Bertujuan untuk hiburan.
Selain tari-tarian di atas di Dusun Giyanti juga terdapat kirab budaya yang diadakan setiap tahun pada bulan syuro. Kirab budaya ini bertujuan :
·           Untuk memperknalkan kepada desa lain tentang budaya yang ada di desa giyanti.
·           Pengumuman perayaan nyadran syuro (tenongan) yang akan diadakan 1 minggu setelah kirab budaya desa giyanti.
·           Nguri-uri tradisi giyanti seperti pakaian, tarian dsb.
Dari serangkaian uraian di atas dapat disimpulkan bahwa di Dusun Giyanti terdapat banyak kebudayaan yang masih dilestarikan hingga sekarang. Diantara kabudayaan Dusun Giyanti yang masih bertahan hingga kini adalah tari-tarian seperti tari rangu-rangu, tari kuda kepang prajurit, tari sontoloyo, tari janggkrik genggong, tari gondang galing, dll. Di Dusun Giyanti setiap tahun juga diadakan kirab budaya dengan berkeliling ke desa-desa di sekitar Giyanti dan memperkenalkan budaya mereka kepada masyarakat. Kirab budaya ini biasanya dilaksanakan pada bulan syuro.













No comments:

Post a Comment