PENGANTAR ILMU
BUDAYA
BUDAYA DIENG DAN
DESA GYANTI
WONOSOBO
Disusun
oleh :
Eka Lutfiyatun
2303411022
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2011
BUDAYA DIENG DAN DESA GYANTI
WONOSOBO
A.
Sekilas tentang Dieng
Dieng adalah sebuah kawasan di
daerah dataran tinggi di perbatasan antara Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten
Wonosobo, Jawa Tengah. Desa Dieng terbagi menjadi Dieng Kulon, Kecamatan Batur,
Kabupaten Banjarnegara dan Dieng Kidul, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.
Kawasan ini
terletak sekitar 26 km di sebelah Utara ibukota Kabupaten Wonosobo, dengan
ketinggian mencapai 6000 kaki atau 2.093 m di atas permukaan laut. Suhu di
Dieng sejuk mendekati dingin. Temperatur berkisar 15—20°C di siang hari dan
10°C di malam hari. Bahkan, suhu udara terkadang dapat mencapai 0°C di pagi
hari, terutama antara Juli—Agustus. Penduduk setempat menyebut suhu ekstrem itu
sebagai bun upas yang artinya "embun racun" karena embun ini
menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.
Beberapa peninggalan budaya dan cagar alam
telah dijadikan sebagai obyek wisata dan dikelola bersama oleh dua kabupaten,
yaitu Banjarnegara dan Wonosobo. Berikut beberapa obyek wisata di Dieng:
1.
Telaga Werna, sebuah telaga yang sering memunculkan nuansa warna merah,
hijau, biru, putih, dan lembayung
2.
Telaga Pengilon
3.
Kawah: Sikidang, Sileri, Sinila (meletus dan mengeluarkan gas beracun
pada tahun 1979 dengan korban 149 jiwa)
4.
Kompleks Candi-candi Hindu yang dibangun pada abad ke-7, antara lain:
Gatotkaca, Bima
5.
Gua Semar
6.
Sumur Jalatunda
7.
Mata air Sungai Serayu
Nama Dieng berasal dari bahasa
Sunda Kuno "Di" yang berarti "tempat" atau
"gunung" dan "Hyang" yang bermakna (Dewa). Dengan
demikian, Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam.
Nama Dieng berasal dari Bahasa Sunda karena diperkirakan sebelum tahun 600
daerah itu didiami oleh Suku Sunda dan bukan Suku Jawa.
Candi-candi di Dieng dipercaya
sebagai tanda awal peradaban Hindu di Pulau Jawa pada masa Sanjaya pada abad
ke-8. Hal ini ditunjukkan dengan adanya gugusan candi di Dieng yang konon untuk
memuja Dewa Syiwa. Candi-candi tersebut antara lain: Candi
Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, Candi Gatot Kaca.
Sedangkan untuk penamaan candi-candi itu sendiri dipercaya baru dimulai pada
abad ke-19. Hal ini ditunjukkan
dengan adanya relief-relief yang ada pada candi tersebut. Misalnya pada Candi
Srikandi, relief yang terlukis justru merupakan penggambaran dari wujud Dewa
Syiwa. Candi-candi tersebut dibangun dengan menggunakan konstruksi batu Andesit
yang berasal dari Gunung Pakuwaja yang berada di Selatan komplek Candi Dieng.
Dieng
terbentuk dari gunung api tua yang mengalami penurunan drastis (dislokasi),
oleh patahan arah barat laut dan tenggara. Gunung api tua itu adalah Gunung
Prau. Pada bagian yang ambles itu muncul gunung-gunung kecil yaitu: Gunung
Alang, Gunung Nagasari, Gunung Panglimunan, Gunung Pangonan, Gunung
Gajahmungkur dan Gunung Pakuwaja.
Beberapa
gunung api masih aktif dengan karakteristik yang khas. Magma yang timbul tidak
terlalu kuat tidak seperti pada Gunung Merapi. Sedangkan letupan-letupan yang
terjadi adalah karena tekanan air bawah tanah oleh magma yang menyebabkan
munculnya beberapa gelembung-gelembung lumpur panas. Fenomena ini antara lain
dapat dilihat pada Kawah Sikidang atau Kawah Candradimuka .
Selain objek-objek di atas, kawasan
wisata Dieng juga memilili jajaran situs-situs budaya berupa bangunan candi
yang berdiri megah seperti berikut ini:
a.
Candi Bima
Candi Bima
terletak paling selatan di kompleks Percandian Dieng.
Pintu masuk berada di sisi timur. Candi ini cukup unik dibanding dengan
candi-candi lain, baik di Dieng maupun di Indonesia pada umumnya, karena
kemiripan arsitekturnya dengan beberapa candi di India.
Pada bagian atap terdapat relung dengan relief kepala yang disebut dengan kudu. Candi ini sekarang berada dalam
kondisi buruk, antara lain karena beberapa kali kasus pencurian arca kudu
tersebut serta rusak akibat solfatara dari
Kawah Sikidang.
b.
Candi
Gatotkaca
Candi
Gatotkaca adalah candi Hindu yang
berada di Dataran Tinggi Dieng, di wilayah Kabupaten Banjarnegara,
Propinsi Jawa Tengah. Candi ini terletak di sebelah barat kompleks Candi Arjuna, di
tepi jalan ke arah Candi Bhima, di seberang Museum Dieng Kailasa.
Dahulu,
Candi Gatotkaca merupakan bagian dari kompleks
yang terdiri atas enam bangunan candi.
Nama Gatotkaca sendiri diberikan oleh penduduk dengan mengambil nama
tokoh wayang dari cerita Mahabarata. Candi
Gatotkaca berdenah bujursangkar dengan pintu berada pada dinding sisi barat.
Pada ketiga sisi dinding yang lain terdapat relung berhias kala-makara.
c.
Candi Arjuna
Candi Arjuna adalah sebuah kompleks candi Hindu peninggalan
dari abad
ke-7-8
yang terletak di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten
Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia.
Dibangun pada
tahun 809, Candi
Arjuna merupakan salah satu dari delapan kompleks candi yang ada di Dieng.
Ketujuh candi lainnya adalah Semar, Gatotkaca,
Puntadewa, Srikandi, Sembadra, Bima dan Dwarawati.
Di kompleks candi ini terdapat 19 candi
namun hanya 8 yang masih berdiri. Bangunan-bangunan candi ini saat ini dalam
kondisi yang memprihatinkan. Batu-batu candi ada yang telah rontok, sementara
di beberapa bagian bangunan ini terlihat retakan yang memanjang selebar 5 cm.
Selain itu, bangunan ini sudah mulai miring ke arah barat. Fondasi timurnya
telah amblas sekitar 15 hingga 20 cm.
Lingkungan
sekitar candi juga tidak mendukung pemeliharaan. Lahannya sudah lama digarap
penduduk untuk lahan pertanian tanaman kentang, sayur-mayur, dan bunga-bungaan.
B.
Kebudayaan Masyarakat Giyanti
Tari Lengger adalah salah satu cabang kesenian tarian Jawa.
Konon , kata Lengger sendiri
tersusun atas kata "Elinga Ngger" yang artinya
"Ingatlah Nak (perempuan)". Ada beberapa sumber yang mengatakan tari
lengger berasal dari Kerajaan Kediri.Konon , Putri dari Raja Brawijaya , Dewi
Sekartaji , kabur dari rumah karena akan dijodohkan dengan Prabu Klono dari
kerajaan Sebrang. Rajapun mengadakan sayembara. Barang
siapa berhasi membawa pulang Putri jika wanita dijadikan saudara dan jika
lelaki akan dijadikan suaminya.
Maka pangeran - pangeran dari kerajaan di nusantara bergegas mencarinya. Singkat cerita hanya tersisia dua peserta yaitu Raden Panji Asmara Bangun yang menyamar sebagai Joko Kembang Kuning dari kerajaan Jenggala dab Prabu Klono sendiri.
Maka pangeran - pangeran dari kerajaan di nusantara bergegas mencarinya. Singkat cerita hanya tersisia dua peserta yaitu Raden Panji Asmara Bangun yang menyamar sebagai Joko Kembang Kuning dari kerajaan Jenggala dab Prabu Klono sendiri.
Maka Joko Kembang Kuning dan pengawalnya menyamar sebagai
penari keliling yang berpindah - pindah dari satu desa ke desa lain. Mereka memainkan peranya sebagai lelaki yang
memakai topeng wanita dan diiringi musik seadanya. Ternyata tiap pementasanya
mendapat sambutan yang meriah dan akhirnya dinamai Lengger dari kata Ledek
(penari) dan geger (gempar/ramai).
Akhirnya di suatu desa, Dewi
Sekartaji keluar dari persembunyianya dan menonton penari-penari Lengger yang
sebenarnya adalah Joko Kembang Kuning. Tapi Prabu Klono juga mengetahui
keberadaan Sang Putri dan mengutus kakaknya , Retno Tenggaron beserta prajurit
- prajurit wanitanya untuk melamar Dewi Sekartaji. Tentu
lamaran ditolak. Merekapun bertarung yang dimenangkan oleh Sang Putri.
Singkat cerita Joko Kembang Kuning dan Dewi sekartaji pun
menikah. Namun Prabu Klono tidak terima dan mengajak berkelahi si Joko Kembang
kuning. Tentu saja dimenangkan
Joko Kembang Kuning. dan pernikahan mereka berlangsung meriah dengan hiburan
Tari Lengger.
Tari lengger dalam perkembanganya
menimbulkan aura negatif karena kerap kali embangkitkan syahwat penontonya atau
penarinya karena memang gerakaknya agak "Hot". Tapi Sunan Kalijaga
berhasil memutarbalikanya. Beliau berhasil merubah teri Lengger sebagai ajang
penyebaran agama islam. Saat ada penonton yang mendekati si penari , dan mulai
horny , Sunan kalijaga yang menyamar menjadi penari wanita akan membuka
topengnya.
Tari ini mengabdung filosofi/pesan 'Ingatlah
pada yang maha kuasa , jangan silau pada gemerlapnya dunia , dan jangan terbawa
pada suasana'
Biasanya tari ini dimainkan saat ada acara tertentu, seperti hajatan , dll. Tapi yaa.. Akibat dari modernisasi dan westernisasi , tari ini tergeser tempatnya dengan tarian - tarian anak muda jaman sekarang. Tapi saya bersyukur karena di desa tempat saya tinggal (Tuksari, kecamatan Kledung kabupaten Temanggung), masih mengadakan pementasan Tari Lengger.
Biasanya tari ini dimainkan saat ada acara tertentu, seperti hajatan , dll. Tapi yaa.. Akibat dari modernisasi dan westernisasi , tari ini tergeser tempatnya dengan tarian - tarian anak muda jaman sekarang. Tapi saya bersyukur karena di desa tempat saya tinggal (Tuksari, kecamatan Kledung kabupaten Temanggung), masih mengadakan pementasan Tari Lengger.
Kebudayaan yang ada di masyarakat giyanti salah satunya adalah tari
lengger. Beberapa tarian yang ditampilkan oleh lengger yang diiringi dengan
musik gamelan. Macam-macamnya yaitu :
1.
Tarian rangu-rangu (Bondan)
Tarian ini menceritakan tentang
sejauh ketika kita berada dalam alam bawah sadar kita masih ingat dengan anak istri.
Salah satu gerakannya adalah
seorang lengger yang diangkat untuk diletakkan di pundak seorang pria (baca: suami) dan membawa boneka
(melambangkan anak) dan berjalan melingkar yang menyimbolkan bahwa
keluarga diatas segalanya.
Saat melakukan tarian ini penari pria berada dalam keadaan dua hal, yang pertama dalam
keadaan sadar(dalam keadaan sadar ada kesesuaian antara gerakan tarian dengan
patokan waktu yang telah ditentukan). Yang kedua yaitu dalam keadaan yang dalam
pengaruh dengan hal ghoib.
Tarian ini menggunakan iringan gamelan rangu-rangu.
2.
Tarian kuda kepang prajurit
Tarian ini menceritakan tentang
kegagahan masyarakat giyanti waktu latihan pada masa Adipati Mertoloyo (pendiri
dusun giyanti).
Tarian ini sendiri telah ada sebelum tahun 1932. Menurut sesepuh di desa
giyanti Mbah Wito menerangkan bahwa tarian ini sudah ada sebelum beliau lahir
(tahun 1932). Iringan yang digunakan dalam tarian ini adalah kema/gendhing
dan coran.
3.
Tarian jangkrik genggong
Tarian ini menggambarkan keadaan
jangkrik yang ada dalam genggong (lumpur). Tarian jangkrik genggong menggunakan iringan gamelan jangkrik genggong. Biasanya 2 penari dengan 1 pria 1 wanita.
4.
Tarian gondang keli
Tarian ini menceritakan tentang
perjalanan kematian orang–orang muslim. Tarian ini diwariskan secara turun
temurun. Sebelumnya tarian yang ada adalah tarian tayub. Namun terian tayub
semakin bergeser dan tergantikan oleh tarian gondang keli.
5.
Tarian sontoloyo
Sontoloyo artinya tua yang tidak punya daya.
Tarian ini menggambarkan masyarakat yang kehilangan 2 ajaran sebelumnya yaitu
hindu dan budha.
6.
Tarian bangilun
Tarian bangilun merupakan
tarian khas dari Giyanti yang hampir punah karena tidak ada penerusnya. Tarian ini selain bertujuan untuk menghibur,
tarian ini juga untuk media syiar islam
di Wonosobo. Tarian ini ditarikan oleh 6 orang penari wanita yang diiringi
dengan bedhug, gendhang dan rebana.
7.
Tari gambyong
Makna dari tarian ini adalah
menggambarkan seorang gadis yang
mulai beranjak dewasa dan suka merias dirinya. Tarian ini ditarikan oleh 4 orang
lengger dan diiringi dengan pangkur dan girunjing.
Bertujuan untuk hiburan.
Selain tari-tarian di atas di
Dusun Giyanti juga terdapat kirab budaya yang diadakan setiap tahun pada bulan
syuro. Kirab budaya ini bertujuan :
·
Untuk memperknalkan kepada desa lain tentang budaya yang ada di desa
giyanti.
·
Pengumuman perayaan nyadran syuro (tenongan) yang akan diadakan 1 minggu
setelah kirab budaya desa giyanti.
·
Nguri-uri
tradisi giyanti seperti pakaian, tarian dsb.
Dari serangkaian uraian di
atas dapat disimpulkan bahwa di Dusun Giyanti terdapat banyak kebudayaan yang
masih dilestarikan hingga sekarang. Diantara kabudayaan Dusun Giyanti yang
masih bertahan hingga kini adalah tari-tarian seperti tari rangu-rangu, tari
kuda kepang prajurit, tari sontoloyo, tari janggkrik genggong, tari gondang
galing, dll. Di Dusun Giyanti setiap tahun juga diadakan kirab budaya dengan
berkeliling ke desa-desa di sekitar Giyanti dan memperkenalkan budaya mereka
kepada masyarakat. Kirab budaya ini biasanya dilaksanakan pada bulan syuro.
No comments:
Post a Comment